Suku Korowai di Papua Terkenal Masih Makan Kanibal. "Alasan Dibaliknya" Bikin Merinding!

Apakah kalian pernah mendengar suku Korowai?? Suku ini adalah salah satu suku kanibal yang bermukim di hutan di pulau Papua, 150 km dari laut Arafura. Mereka melewati hidup secara tradisional dan tidak terhubung dengan dunia luar. Bila tidak ditemukan, mereka mungkin tidak tahu bahwa ada orang lain yang hidup di planet ini.

Total orang suku ini sebanyak 3000 lebih orang dan terbagi menjadi beberapa klan. Cara mereka bertahan hidup sama seperti orang-orang zaman dahulu ; memanah, berburu, makan serangga dan binatang-binatang hutan lain, serta menggunakan kayu untuk membuat api. Alat berburu mereka adalah tongkat dan juga panah. Makanan sehari-hari mereka ada sagu, pisang, palem, dan lainnya. Hewan buruan yang mereka makan ada burung kasuari, ular, kadal, rusa, babi hutan, atau larva kumbang.

Sponsored Ad

Pakaian yang mereka kenakan berbahan dedaunan.

Yang membuat banyak orang merinding adalah, suku ini masih ada kebiasaan "kanibalisme", yaitu memakan daging manusia. Namun mereka tidak memakan manusia secara sembarangan. Mereka percaya bahwa "kanibalisme" dapat membantu menghilangkan bencana atau menangkis roh jahat.

Sponsored Ad

Suku Korowai tidak mengenal virus ataupun kuman yang menyebabkan penyakit. 

Orang yang jatuh dari pohon atau diserang binatang lalu mati, alasan kematian mereka bisa dilihat dengan jelas.

Namun bila ada orang yang mati secara misterius (mungkin karena penyakit), orang suku Korowai akan mempercayainya sebagai kutukan khakhua (penyihir). 

Mereka mempercayai bahwa sang khakhua akan merasuki tubuh seorang pria (tidak mungkin wanita) dan mulai melahap isi korban secara spiritual dan mati. Karena itu, mereka akan memakan "khakhua" alias tubuh korban agar khakhua mati.

Sponsored Ad

Tentu saja mereka tidak akan memakannya mentah-mentah. Mereka akan memasaknya dengan daun dan batu, lalu memotongnya menjadi beberapa bagian, dan membungkusnya dengan daun pisang. Bagian kepala akan dipotong dan akan diberikan kepada sang penemu korban. 

Bagian rambut, kuku, dan kelamin tidak akan dimakan. Anak-anak berumur di bawah 13 tahun juga tidak diizinkan untuk menyantapnya. Mereka percaya bahwa memakan khakhua sangat berbahaya dan anak-anak masih terlalu lemah untuk melawan roh jahat itu.

Sponsored Ad

Untuk menghindari banjir, serangan binatang buas serta nyamuk, mereka membangun rumah 6-12 meter di atas pohon, paling tinggi bisa mencapai 35 meter. Rumah pohon mereka bisa ditinggali lebih dari 10 orang. Setiap rumah dihuni oleh satu klan. Oleh karena itu, mereka tidak sembarangan memilih pohon. Struktur pohon harus kuat karena akan dijadikan tiang rumah. Bagian lantai rumah dibuat dari batang kayu pohon, bagian atap serta dinding rumah ditutupi kulit pohon sagu dan daun pohon, lalu diperkuat dengan rotan. Sebelum membangun rumah, mereka akan melakukan ritual malam untuk mengusir roh jahat.

Sponsored Ad

Tempat tinggal mereka dibagi menjadi dua, yaitu daerah khusus pria dan wanita.

Para peneliti menganggap orang-orang suku Korowai cukup cerdas. Mereka mampu membangun konsep perkampungan pada wilayah yang sebenarnya sulit untuk ditinggali.

Sponsored Ad

Berdasarkan hasil wawancara media VICE dengan Paul Raffaele, seorang jurnalis asal Australia yang pernah tinggal empat hari bersama suku Korowai, ia menyatakan bahwa suku Korowai 90% sama dengan manusia modern pada umumnya. Mereka punya rasa sayang, punya rasa benci, bisa marah, ambisius, bisa punya rasa kepemimpinan, dan lain sebagainya. 

Keberadaan suku Korowai ini baru diketahui pada tahun 1970an, ketika seorang misionaris datang ke sana dan hidup bersama mereka. Mereka tidak akan memakan orang luar karena mereka percaya bahwa Khakhua hanya akan merasuki orang suku mereka sendiri.

Sponsored Ad

Sampai kini, sudah ada beberapa klan yang menghentikan kebiasaan kanibalisme karena banyaknya orang-orang Barat yang datang meneliti dan juga mengenalkan mereka dunia modern.

Kisah suku Korowai yang unik ini pernah dijadikan film dan juga ada beberapa wisatawan asing yang tertarik untuk berkunjung ke sana.

Apa kamu berminat?

Sumber: online