Unik! "Mojag Coffee", Kafenya Para Santri, Tempat Ngopi Sekaligus Tambah Wawasan

Sebagai salah satu tempat nongkrong dan menikmati hidangan kopi, Mojag Coffee menyajikan suasana berbeda diantara ratusan kedai kopi yang bertebaran di wilayah Kabupaten Jombang Jawa Timur.

Sponsored Ad

Di kedai kopi ini, para pengunjung tak hanya bisa nongkrong sembari minum kopi. Di tempat ini, para pengunjung juga bisa menambah pengetahuannya lewat buku-buku yang disediakan pemilik dan pengelola kedai. Buku-buku berbagai jenis dan beragam judul disiapkan oleh pemilik dan pengelola kedai diatas meja di tempat para pengunjung menyantap hidangan.

Sponsored Ad


Di Mojag Coffee, ada dua puluhan meja yang disediakan bagi pengunjung untuk nongkrong sembari menikmati hidangan. Meja-meja itu ditempatkan pada tiga bagian, menyesuaikan dengan kondisi bangunan rumah.

Sponsored Ad

Dari penataan meja yang berada pada bagian depan, tengah maupun belakang, pengunjung memiliki opsi untuk duduk pada kursi kayu atau duduk lesehan. Tidak ada kesan mewah saat nongkrong maupun menikmati hidangan kopi di tempat ini. Namun yang istimewa, pengelola kedai menyediakan menu pilihan kopi nusantara khas produk lokal dan menyediakan buku-buku bacaan di setiap meja.

Sponsored Ad


Pada setiap meja, pemilik dan pengelola kedai meletakkan beberapa buku. Buku-buku tersebut bebas dibuka dan dibaca oleh setiap pengunjung. "Setiap meja ada 5 sampai 10 buku, judulnya macam-macam. Ada buku ringan seperti novel, ada juga buku untuk kalangan akademisi dan buku-buku pemikiran," kata Muhammad Mansur (29), salah satu pengelola Mojag Coffee.

Sponsored Ad

Awalnya, tutur Mansur, tidak ada niatan untuk memberikan 'servis tambahan' bagi pengunjung kedai dengan menyediakan buku di setiap meja. Cerita berawal saat Mansur dan teman-temannya membuka kedai kopi di kawasan Jalan Raya Mojoagung dengan nama Mojag Coffee, pada pertengahan 2017. Mansur adalah santri Pondok Pesantren Al Falah di Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung. Demikian pula teman-temannya sesama pendiri dan pengelola kedai.  

Sponsored Ad


Sebagai santri yang baru menyelesaikan masa belajar di Pondok Pesantren, Mansur dan teman-temannya membawa barang-barang miliknya, termasuk koleksi buku-bukunya ke Mojag Coffee. Di kedai kopi itu, buku-buku milik Mansur dan teman-temannya ditaruh dan ditata diatas meja pelayanan. Rupanya, buku-buku tersebut menarik minat para pelanggannya.

Sponsored Ad

Banyak pelanggannya yang tertarik meminjam buku saat nongkrong di kedai. "Dari situ kemudian terfikir, kenapa tidak sekalian saja. Kita berbisnis, sekaligus memperkuat budaya literasi," ungkap Mansur kepada Kompas.com. "Tetapi karena tempatnya yang kurang luas, jadi ya belum bisa maksimal. Pelanggannya juga masih sedikit," tambah laki-laki asal Ngimbang, Lamongan ini.

Sponsored Ad


Pada Agustus 2018, Mojag Coffee berpindah lokasi tak jauh dari lokasi sebelumnya. Kedai ini berada di wilayah Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Lokasinya berada di jalan raya Gambiran - Mojowarno, tepatnya di sebelah selatan atau di belakang Mapolsek Mojoagung.

Sponsored Ad

Kedai kopi ini menempati sebuah rumah tua dengan halaman yang cukup luas. Kedai kopi ini dikelola oleh tiga orang yang bertugas secara bergantian. Di tempat ini, pengelola kedai menaruh buku di setiap meja yang disediakan untuk pengunjung.


"Koleksi buku kami masih terbatas, sekitar 250 judul buku dan itu koleksi pribadi kami. Meskipun terbatas, harapan kami budaya literasi bisa tumbuh di masyarakat, khususnya di kalangan pelanggan kami," kata Mansur.


Menempatkan buku di meja tempat pengunjung menikmati hidangan kopi dan aneka minuman, diakui pengelola Mojag Coffee, bukan tanpa resiko. Sejak Agustus 2018 hingga awal Januari 2019, ada beberapa buku yang kini tak bisa dijumpai lagi. Ada pula buku yang rusak karena tumpahan minuman dan adapula buku yang rusak karena faktor lain.

"Kalau rusak ataupun hilang, tentu ada. Tetapi itu resiko yang sudah kami hitung sebelumnya," kata Ali Maghridho (30), salah satu pengelola Mojag Coffee. Pria yang juga santri Pondok Pesantren Al Falah Gambiran Mojoagung ini mengungkapkan, penempatan buku-buku bacaan di meja pengunjung kedai mendapatkan apresiasi beragam.


"Macam-macam lah responnya. Ada yang buka-buka saja, ada yang membaca, ada juga yang tanya koleksi buku lainnya. Tentu ada juga yang acuh atau menjadikan buku yang ada sebagai kipas," tutur Ali. Menurut laki-laki asal Gondang Kabupaten Nganjuk ini, membaca buku faktor kuatnya berasal dari keinginan dan kesadaran diri sendiri.


Karena itu, pengelola kedai menyerahkan sepenuhnya kepada pelanggan untuk memanfaatkan ataupun tidak terhadap buku-buku yang disediakan. "Bagi kami ya biasa saja kalau buku-buku itu tidak dibaca atau tidak disentuh sama sekali. Pikiran kami ya mungkin bukunya kurang menarik bagi mereka.

Tapi makin kesini, responnya semakin positif," beber Ali Maghridho. Ditambahkan, untuk menggugah budaya membaca, pengelola Mojag Coffee berniat menambah koleksi buku agar pelanggan atapun pengunjung baru punya opsi lebih terhadap buku yang ingin dibaca.


Saat ini, ujar Ali, dengan koleksi 250 judul buku, pilihan bagi pelanggan terhadap yang ingin dibaca masih sangat terbatas. "Pelanggan disini kan dari berbagai latar belakang, ada yang pelajar, mahasiswa, kuli atapun santri. Kalau kami berfikir menambah buku-buku yang cocok bagi mereka," Salah satu pengunjung Mojag Coffee, Abdul Mujib (20), menyebut adanya sisi istimewa pada kedai kopi yang dikunjungi olehnya, Sabtu (5/1/2019) petang. Keistimewaan tersebut adanya buku-buku yang disediakan diatas meja. "Kalau di tempat lain saya belum pernah menemukan yang seperti ini. Sering kesini, buku-buku disini kadang juga saya baca," katanya saat ditemui Kompas.com.


Sumber : Kompas

Kamu Mungkin Suka