Awalnya Ia Terlihat Tegang dan Tidak Meyakinkan, Tapi Begitu Buka Mulut, “Suaranya Bikin Juri Sampai Bertekuk Lutut!”

Zhaxi Pingcuo adalah seorang guru berusia 30 tahun yang kemudian keluar menjadi pemenang dalam ajang Sing China tahun 2017 lalu. Zhaxi Pingcuo yang berasal dari Tibet, berhasil menggabungkan budaya tradisional dan musik modern. Tibet yang merupakan daerah di barat daya Tiongkok adalah daerah yang masih mengandalkan pertanian untuk bertahan hidup.


Bisa dikatakan, Tibet memiliki kehidupan yang tidak berbeda jauh dengan masyarakat Papua di Indonesia. Banyak orang menganggap bahwa Tibet masih terbelakang dalam beberapa hal dan tidak memiliki perkembangan yang pesat seperti kota-kota besar lainnya. Namun, Zhaxi Pingcuo ingin membuktikan pada banyak orang bahwa masyarakat Tibet pun bisa mengikuti perkembangan zaman.

Sponsored Ad

Selain itu, Zhaxi Pingcuo pun ingin menunjukkan bahwa saat seseorang mengikuti perkembangan zaman, bukan berarti kita harus lupa atas jati diri kita pribadi. Kita seharusnya tetap bangga atas jati diri sendiri dan menunjukkannya pada dunia luar. Saat mengikuti ajang Sing China, Zhaxi Pingcuo yang berprofesi sebagai guru sempat merasa tegang.

Kali itu merupakan pertama kalinya Zhaxi Pingcuo bernyanyi di depan banyak orang dan di panggung yang begitu megah. Biasanya, Zhaxi Pingcuo hanya bernyanyi di depan murid-muridnya untuk menghilangkan rasa bosan dan lelah saat belajar. Dalam waktu 4 setengah menit, Zhaxi Pingcuo mengeluarkan kemampuan vokal terbaiknya.

Sponsored Ad

Dalam waktu sesingkat itu pula Zhaxi Pingcuo bisa menggabungkan alunan musik tradisional khas Tibet, gaya musik rock dan juga musik rap! Uniknya lagi Zhaxi Pingcuo berani mengambil risiko dengan menyanyikan setengah bagian dari lagunya menggunakan bahasa daerah Tibet, bahkan saat bagian rap, semuanya menggunakan bahasa daerah!

Sponsored Ad

Dari sini kita nampaknya harus belajar bahwa musik adalah bahasa universal. Walau kemungkinan pendengar tidak mengerti apa yang kita nyanyikan, namun asal kita percaya diri dan yakin, maka energi dan semangat yang ingin disampaikan, pasti bisa diterima dengan baik oleh pendengar. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa Zhaxi Pingcuo bisa mendapat 3 Yes dan akhirnya keluar sebagai juara.

Sponsored Ad

Juri-juri merasa terkejut dan tercengang dengan bakat musik dari Zhaxi Pingcuo ini, terutama saat mendengar rap dengan bahasa daerah Tibet. Ini adalah pertama kalinya para juri mendengar rap dengan bahasa daerah Tibet.


Dengan penampilan darinya ini juga, banyak orang semakin terbuka matanya dan tidak lagi memandang rendah Tibet. Tibet yang selama ini dianggap sebagai daerah yang terbelakang, ternyata juga mengikuti perkembangan zaman. Terlihat dari musik yang dibawakan oleh Zhaxi Pingcuo di dalamnya terdapat unsur musik tradisional dan juga modern.

Sponsored Ad

Zhaxi Pingcuo sendiri hanyalah orang yang suka menyanyi. Ia tidak bisa memainkan alat musik, ia juga tidak bisa membaca not balok. Apalagi jika soal penampilan, Zhaxi Pingcuo merasa bahwa dirinya sungguh hanyalah orang biasa dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang lain.

Sponsored Ad

Namun, juri pendampingnya, Liuhuan mengatakan bahwa kekuatan terbesar yang dimiliki oleh Zhaxi Pingcuo dan sulit dimiliki oleh orang lain adalah rasa bangga atas budaya sendiri. Selain itu, kecintaan Zhaxi Pingcuo pada musik membuatnya melupakan hal-hal berbau teknik dan selalu menyanyikan lagu dari hati. Maka dari itu, walau saat babak final Zhaxi Pingcuo menyanyikan lagu yang seluruhnya menggunakan bahasa daerah Tibet, justru lebih bisa menyentuh hati banyak orang.

Sponsored Ad

Wah, kecintaan Zhaxi Pingcuo terhadap budaya tradisional dan musik harus ditiru banget nih! Semoga kedepannya ada musisi Indonesia yang seperti ini ya! Siapa tahu nanti ada rap pakai bahasa Batak, Jawa dan bahasa daerah lainnya… XD

 

Sumber: Youtube

Kamu Mungkin Suka