Bantah Nikahi Bocah 7 Tahun, Kini Tercancam Bui Hingga Kebbiri, Terbongkar Kronologi Perkawinan Sirinya:"Saya Diminta 35M"

H.M. Pujiono Cahyo Widianto, akrab disapaSyekh Puji, buka suara terkait kasus dugaan pernikahan anak di bawah umur yang ditudingkan kepadanya. Ia menyampaikan hak jawab lewat surat terbuka yang diterima Tagar, Kamis malam, 2 April 2020. 

Hak jawab dari Syekh Puji disampaikan lewat Sekretaris Yayasan Oemah Bandungan, Pristyono Hartanto. "Saya hanya diminta Syekh Puji untuk menyampaikan rilis yang berisi hak jawabnya kepada rekan-rekan media atas pemberitaan soal dirinya," ujar dia. 

Sponsored Ad

"Bahwa tidak benar saya telah menikah dengan anak di bawah umur berusia tujuh tahun.

"Keterangan tertulis ditandatangani langsung oleh Syekh Puji, tertanggal 2 April 2020. Dalam suratnya ia menyampaikan perihal protes, hak jawab, dan koreksi berita. Ada tujuh poin yang disampaikan, salah satunya membantah menikahi santrinya yang berinisial D asal Grabag, Kabupaten Magelang.

"Bahwa tidak benar saya telah menikah dengan anak di bawah umur berusia tujuh tahun," kata Syekh Puji dalam keterangan tertulisnya. 

Sponsored Ad

Pemilik Pondok Pesantren Miftahul Jannah di Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang itu menyatakan yang terjadi sebetulnya adalah upaya permintaan uang. Dirinya diminta uang sebesar Rp 35 miliar dengan ancaman akan memberitakan dirinya menikahi anak di bawah umur.

Ia menolak permintaan tersebut sehingga pemberitaan yang dianggap menggiring opini publik keluar. "Skenario permintaan uang tersebut dilakukan oleh beberapa anggota keluarga saya dan oknum yang mengaku dekat dengan pers dan kepolisian," tutur dia.

Sponsored Ad

Pengusaha kuningan itu meminta segenap pihak menahan diri, terlebih di masa pandemi corona seperti sekarang. Menurutnya, saat ini kepolisian sedang membantu pemerintah dalam mengatasi wabah Covid-19 dan kasusnya sudah masuk dalam proses penyelidikan.

"Mari menahan diri untuk tidak menggiring opini publik dan sepenuhnya menyerahkan proses penyelidikan kepada Kepolisian Daerah Jawa Tengah untuk secara profesional melakukan tugasnya tanpa adanya tekanan dan intervensi," kata dia.

Sponsored Ad

Terpisah, Ketua Komnas Perlindungan Anak Jawa Tengah, Endar Susilo mengatakan dirinya didatangi oleh tiga anggota keluarga Syekh Puji, yaitu Joko Lelono alias Jack, Wahyu, dan Apri Cahyo Widianto, November 2019. Mereka mengadukan telah terjadi tindak pidana pernikahan anak di bawah umur yang dilakukan oleh Syekh Puji. 

Dari keterangan Apri yang mengaku menjadi saksi pernikahan siri Syekh Puji, prosesi dilakukan pada pukul 24.00 WIB pada pertengahan tahun 2016. Dikatakan, usai akad Apri melihat Syekh Puji memangku dan mencium D.

Sponsored Ad

"Saudara Apri secara jelas dan berurutan menyampaikan kronologis kejadian perkawinan siri tersebut kepada saya," jelas Endar.

Usai menerima aduan, Endar kemudian melakukan investigasi dengan menemui sejumlah saksi lain yang mengikuti acara perkawinan itu. Hasil investigasi kemudian disampaikan ke Polda Jawa Tengah. 

"Sebelum menyampaikan aduan ke Ditreskrimum Polda Jawa Tengah terlebih dahulu saya mendatangi dua orang saksi lain dan ibu korban D yang bernama EDG di rumah masing-masing. Mereka semua mengakui adanya perkawinan tersebut dan juga melihat tindakan pencabulan terhadap D yang dilakukan Syekh Puji di pondok dan kediamannya, setelah perkawinan siri tersebut," tutur dia.

Sponsored Ad

Menurut Arist, Ketua Komnas Anak  Syekh Puji dapat dikenakan tambahan pidana dari sepertiga ketentuan pidana pokoknya dahulu.

Mengingat ia pernah dinyatakan bersalah dan menjalani hukuman dari perkara yang sama.

Sponsored Ad

Ini merujuk pada pasal 81 sebagaimana dimaksud pasal 76 D ayat (4) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu Nomor : 01 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Dari perbuatannya tersebut, Syekh Puji dapat terancam hukuman pidana penjara maksimal 20 tahun.

Arist menambahkan jika hukuman yang dapat diterima pria berjenggot itu akan lebih kejam dengan penjara seumur hidup atau bahkan kebiri menggunakan suntik kimia.

"Itu berarti Syekh Puji dapat dikenakan hukuman pidana penjara seumur hidup dan bahkan bisa mendapatkan tambahan hukuman berupa tindakan kebiri lewat suntik kimia dan pemasangan alat pedenteksi elektronik," kata Arist dalam keterangan tertulisnya.

Sumber: Line TodayTribun



Kamu Mungkin Suka