Dicibir Karena Harga Mie Ayam Cuma 2 Ribu Rupiah, Ini Dia Cerita Sedih Dibaliknya

Keberadaan warung mi ayam Rp2.000 menjadi viral di media sosial, terutama Facebook.

Bukan sekadar isapan jempol, mi ayam itu memang berharga Rp2.000.

Kok bisa mi ayam dibanderol Rp2.000 seporsi?

Warung mi ayam tersebut berada di Dukuh Gondang RT 37, Desa Grasak, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Pemiliknya adalah Rika Septi Anadewi (25) dan suaminya, Febriana Trilaksono (25). 

Rika sudah berjualan dua bulan terhitung dari Desember tahun lalu.

Sponsored Ad

Adapun Rian, sang suami, sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan.

"Dulu saya ikut bantu jualan bulik (tante) di dekat MTs 1 Gondang. Karena anak saya nggak ada yang jagain, ya sudah saya jualan di rumah saja," ujar Rika kepada Tribunjateng.com, Jumat (18/1/2019) sore.

Sponsored Ad

Rika mendapat resep bumbu mi ayam dari mertuanya.

Tak hanya dia dan bulik, mertua dan kakak Rika juga berjualan mi ayam di tempat masing-masing.

"Alhamdulillah nggak rugi. Bulik saya yang berjualan mi ayam malah iri dengan laba yang saya dapat," jelasnya.

Rika mengaku hanya bermodal Rp100.000 pinjaman dari neneknya.

Sehari Rika mampu menjual 100 porsi mi ayam.

Dia biasa membeli mi kering di pasar dekat rumah, mereknya Eko.

Sehari rata-rata Rika membeli 10 pak.

Sponsored Ad

Adapun daging ayam sehari habis 2 hingga 3 ekor.

Dia pun mendapatkan laba bersih rata-rata Rp70.000 setiap hari.

"Saya menjual Rp2.000 biar anak-anak juga bisa beli. Apalagi anak muda hingga orang tua," ujarnya.

Ada kisah sedih di balik pilihan Rika dan suami berjualan mi ayam Rp2.000 ini.

Suatu hari ketika belum berjualan, anaknya meminta uang jajan Rp2.000.

Gara-gara tidak punya uang, Rika tak mampu memenuhi permintaan anaknya.

"Sedih, nelangsa. Ketika anak minta uang jajan Rp2.000 saja, saya nggak bisa ngasih," ujar Rika meneteskan air mata.

Sponsored Ad

Dia mengaku mendapat banyak cibiran dari netizen karena harga mi ayam Rp2.000.

"Mi ayam apa itu cuma Rp2.000, mencurigakan. Pasti ayamnya ayam mati," jelas Rika sambil membacakan komentar di Facebook.

Ketika dibilang kalau ayamnya hidup, mi-nya akan habis dimakan atau dipatuk ayam, dia pun tertawa. 

Rika mengaku senang bisa berjualan tanpa meninggalkan anaknya.

Dia juga bersyukur bisa mendapatkan laba walau sedikit.

"Dulu saya bikin hanya satu panci, itu saja habis alhamdulillah. Sekarang 3 panci besar kadang kurang," jelasnya.

Sponsored Ad

"Yang penting saya tidak rugi. Bisa jualan, jaga anak, bisa beliin jajan anak," terangnya.

Sponsored Ad

Perlu diketahui, sebenarnya saat ini belum ada warung mi ayam di rumah Rika.

Dia melayani pembeli di dalam rumah yang bisa dibilang sederhana.

Mereka biasa memesan lebih dulu via Whatsapp, kemudian akan mengambil setelah jadi.

Tak ubahnya sistem bayar di tempat (COD) dalam penjualan online.

Namun, Rika berencana akan segera membuka warung mi ayam di depan rumahnya.

Dia sudah mulai membeli mangkok, wadah kecap, meja, dan kursi.

"Kurang bersih-bersih, belum sempat. Suami saya masih bekerja," paparnya.

Sponsored Ad

Bagaimana rasa mi ayam Rp2.000 ini?

Ketika Tribunjateng.com mencicipinya, terasa enak dan sedap.

Tidak berbeda dari mi ayam yang berharga lebih mahal.

Cuma memang porsinya sedikit sehingga orang dewasa tak cukup memesan semangkuk. 

Pengakuan serupa juga disampaikan Fira (31), seorang pelanggan Rika yang sore itu datang mengambil pesanannya.

Dia berlangganan karena mi ayam buatan Rika enak, tak hanya murah.

"Harga murah rasa enak. Mi ayam porsi kecil dengan harga segitu sudah cukup. Kualitasnya bagus harganya juga bagus," papar dia.


Sumber : Line Today

Kamu Mungkin Suka