Ia Rela Mie Dagangannya Dibayar Hanya dengan Tulisan, 25 Tahun Berlalu Terjadi Hal yang Bikin Terenyuh!

Seorang seniman dan penyair intelektual asal Indonesia, Emha Ainun Nadjib pernah mengatakan bahwa dakwah yang utama bukan berupa kata-kata, melainkan dari perilaku. Orang yang berbuat baik berarti sudah berdakwah.

Sponsored Ad

Perlu jika diingat bahwa berbuat kebaikan termasuk salah satu bentuk investasi yang tak pernah membuat siapapun merugi. Menabur kebaikan pasti akan menuai kebaikan pula, walaupun kita tidak pernah tahu kapan akan menuainya. Seperti yang bisa kita pelajari dari kisah di bawah ini…

Dong Nianhe adalah seorang penjual mie berusia 65 tahun yang sudah berjualan mie selama bertahun-tahun lamanya di sebuah kota kecil di Tiongkok. Dong Nianhe selama ini hidup seorang diri, tanpa memiliki anak ataupun istri. Namun, sejak 5 tahun yang lalu, ia selalu menerima kiriman uang sebesar 10 ribu RMB (sekitar 20 juta rupiah) dari seseorang. Mendapat rejeki mendadak seperti ini, banyak tetangga Dong Nianhe yang merasa iri padanya, namun tidak ada seorangpun yang tahu termasuk Dong Nianhe, siapa sebenarnya orang yang telah mengirimkan uang setiap bulannya. Sampai akhirnya seorang wanita pun muncul.

Sponsored Ad

25 tahun yang lau, Dong Nianhe baru saja membuka kedai mie miliknya. Setiap sore, ia melihat ada seorang gadis kecil dengan tas merah yang selalu melihat ke arah kedai mienya dari seberang jalan. Terlihat sepertinya anak tersebut sangat ingin makan mie di kedai milik Dong Nianhe, tapi tidak tahu mengapa, gadis itu tidak pernah datang ke kedai mie tersebut, melainkan hanya melihat dari seberang jalan.

Suatu hari, kedai mie Dong Nianhe sedang sepi pelanggan dan Dong Nianhe pun melihat gadis tersebut sedang berdiri di seberang jalan sambil menatap kedai mie miliknya. Kemudian, Dong Nianhe memasak satu porsi mie dan memberikannya pada gadis itu. Dong Nianhe berkata,”Kamu lapar kan? Ini, silahkan dimakan selagi panas.” Gadis itu pun sangat terkejut, dan terlihat bahwa dirinya malah jadi sedikit merasa ketakutan dengan tindakan Dong Nianhe yang begitu tiba-tiba.

Sponsored Ad

Dong Nianhe kemudian berkata,”Tenang saja, tidak ada yang aneh dalam mie ini. Aku bukan orang jahat.” Kemudian gadis itu berkata,”Ta..ta..tapi, aku tidak punya uang.” Dong Nianhe berkata,”Tidak perlu bayar. Ini gratis untukmu!” Walau demikian, gadis tersebut masih saja menahan diri dan menolak pemberian Dong Nianhe itu, sambil berkata,”Kakek bilang tidak boleh sembarangan menerima pemberian orang asing. Jika menerima pun, harus bayar, tidak boleh mengambil begitu saja.”

Sponsored Ad

Setelah dilihat lebih seksama oleh Dong Nianhe, gadis tersebut sepertinya adalah anak dari keluarga miskin. Pakaian yang ia gunakan banyak sekali bekas tambalan dan jahitan. Kemudian Dong Nianhe meletakkan mie tersebut begitu saja di jalan sambil berkata,”Ini, aku tinggalkan di sini. Kalau lapar, makan saja. Kamu tidak perlu membayarnya.”

Begitu Dong Nianhe pergi, gadis tersebut masih saja teguh dengan pendiriannya dan tidak memakan mie tersebut, yang ada malah langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Dong Nianhe pun menjadi penasaran dengan gadis kecil itu dan akhirnya diketahui bahwa gadis kecil itu bernama Yin Cailian.

Sponsored Ad

Yin Cailian hanya tinggal bersama kakeknya dan kedua orang tuanya bekerja di luar kota dan sudah 5 tahun ini kedua orang tuanya tidak pernah pulang. Yin Cailian dan kakeknya tinggal di sebuah gubuk tua. Sepulang sekolah, Yin Cailian membantu kakeknya bertani dan memasak. Namun, karena hanya memiliki uang dari hasil bertani dan kedua orang tua tidak pernah mengirimkan uang, hampir setiap hari Yin Cailian dan kakeknya hanya makan bubur saja.

Sponsored Ad

Dong Nianhe merasa begitu iba dengan Yin Cailian. Begitu ia kembali bertemu dengan Yin Cailian, Dong Nianhe mengatakan,”Setiap harinya kamu harus mengajariku menulis 1 huruf kaligrafi. Jika kamu mau, aku akan memberikan 1 porsi mie sebagai hadiah. Kalau begini, kamu mau kan?” Yin Cailian pun tidak percaya bahwa ia bisa bertemu dengan Dong Nianhe yang begitu baik hati. Yin Cailian kemudian mengatakan,”Baiklah, tapi bolehkah aku mengajarimu 2 huruf setiap harinya? Agar aku bisa menukarnya dengan 2 porsi mie.”

Sponsored Ad

Dong Nianhe langsung terenyuh mendengar kata-kata itu. Yin Cailian masih ingat dan peduli pada kakek tercinta, maka Dong Nianhe tanpa ragu langsung menjawab,”Tentu saja boleh!” Sejak saat itu, Yin Cailian selalu datang ke kedai mie untuk mengajari Dong Nianhe untuk menulis dan menukarkannya dengan 2 porsi mie. Hal ini tanpa terasa dilakukan selama 5 tahun, dan sampai Yin Cailian akhirnya lulur dari sekolah dasar, tidak tahu mengapa tiba-tiba Yin Cailian menghilang begitu saja bersama sang kakek.

Sponsored Ad

Dong Nianhe akhirnya mengetahui bahwa sang kakek ternyata menderita sakit keras, beruntung ada saudara mereka yang baik hati mau merawat mereka dan membawa mereka tinggal bersama di kota. Dong Nianhe sempat menikah 2 kali, tapi semuanya berakhir dengan perceraian dan tidak memiliki anak sama sekali. Bisa dikatakan, kehidupan di masa tua Dong Nianhe cukup menyedihkan, karena hidup hanya seorang diri.

Sponsored Ad

Namun, seperti yang sudah diceritakan di atas, sejak 5 tahun yang lalu, Dong Nianhe selalu mendapat kiriman uang yang misterius. Setiap kali mendapat kiriman uang, tidak pernah tertulis siapa nama si pengirim. Tetangga yang mengetahui hal ini pun menyuruh Dong Nianhe untuk pensiun saja dan menikmati hidup ini. Dong Nianhe berkata,”25 tahun sudah berlalu. Aku harus tetap membuka kedai mie ini. Aku masih menunggu kepulangan 2 orang. Jika aku sudah tidak berjualan lagi, aku takut ia tidak bisa menemukan jalan pulang.”

Sayangnya, pemerintah setempat ingin melakukan penggusuran dan kedai mie Dong Nianhe pun menjadi salah satu korban. Semenjak mendengar kabar itu, Dong Nianhe menjadi stress dan tidak fokus. Sering kali ia memasak mie hingga terlalu matang atau menumpahkan kuah hingga berserakan ke mana-mana.

Banyak orang menyarankan pada Dong Nianhe untuk merelakan kedai mie ini dan menikmati masa tua dengan baik. Selama 25 tahun ini, Dong Nianhe masih suka melihat ke seberang jalan dan berharap bahwa Yin Cailian akan berdiri lagi di seberang jalan. Pada saat itu, Dong Nianhe pun langsung terkejut! Akhirnya Dong Nianhe melihat Yin Cailian lagi! Meskipun Yin Cailian sudah beranjak dewasa, tapi Dong Nianhe tidak pernah lupa pada Yin Cailian. Yin Cailian lalu langsung menghampiri Dong Nianhe, memeluknya dan berkata,”Ayah, aku pulang!”

Dong Nianhe pun langsung menangis. Keduanya memang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, tapi ternyata hubungan mereka begitu erat. Yin Cailian menganggap bahwa Dong Nianhe adalah ayahnya dan sekarang sudah saatnya ia yang gantian menjaga Dong Nianhe. Yin Cailian tidak mungkin melupakan jasa dari Dong Nianhe yang selalu memberinya makan tanpa menjatuhkan harga diri dirinya sendiri. Sekarang, Yin Cailian sudah dewasa dan memiliki penghasilan, sedangkan Dong Nianhe sudah menua dan membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Yin Cailian mengatakan bahwa alasan ini cukup kuat untuk memanggil Dong Nianhe dengan panggilan AYAH. Selain itu Yin Cailian mengatakan,”Ayah, terima kasih telah menjagaku selama 4 tahun. Sekarang, giliranku yang menjagamu hingga akhir waktu.”

Dari cerita ini kita juga menyadari bahwa, lakukanlah kebaikan sekecil apapun, karena jika kamu berbuat baik, itu juga berarti kamu berbuat baik pada dirimu sendiri. John C.Maxwell pernah mengatakan, bahwa betapa indahnya dunia ini jika filosofi mencintai diri sendiri diganti dengan sikap mengasihi sesama sehingga orang-orang mulai berkata,”Saya Peduli!” Saat seseorang mau lebih peduli terhadap orang lain maka dunia ini pasti akan menjadi lebih baik lagi.


Sumber: Coco


Kamu Mungkin Suka